a. Nazi
Dalam Perang Dunia I (1914-1918) Jerman dikalahkan Sekutu. Sejak itu, Jerman menjadi republik dengan presidennya bernama Ebert dan Partai Sosial Demokrat. Republik itu dikenal dengan nama Republik Weimar berdasarkan ibu kotanya di Weimar. Di bawah pimpinan Ebert, Jerman tidak dapat mengatasi kesulitan, baik politis maupun ekonomis.
Dalam suasana yang suram itu pada tahun 1919 di kota Munchen berdiri sebuah partai kecil dnan nama Deutsche Arbeiter partei (Partai Buruh Jerman). Berkat keuletan Hitler, partai itu menjadi besar dengan nama National Sozialistsche Deutsche Arbeiter Partei (HSDAP) atau yang dikenal dengan sebutan Nazi. Pada tahun 1923 partai itu mengadakan pemberontakan di Munchen tetapi gagal dan Hitler dipenjarakan. Di dalam penjara ia sempat menulis sebuah buku yang terkenal dengan nama Mein Kamft, yang artinya Perjuangan Saya. Pada tahun 1932 ia (NSDAP) menang dalam pemilihan umum.
Pada tahun 1933 Hitler diangkat menjadi Reichsakanzler (perdana mentri). Setelah Presiden Hindenburg meninggal pada tahun 1934, Hitler diangkat menjadi panggantinya dengan sebutan Fuhrer (pemimpin).
Sejak itu, Hitler berusaha menyingkirkan lawan politiknya. Dengan cara yang kejam dan keras dalam waktu relatif singkat Jerman disegani bangsa di dunia. Kaum buruh yang lemah dipergunakan oleh Nazi sebagai masa yang mudah digerakkan. Semboyan Nazi adalah satu bangsa, satu pimpinan, dan satu tekad (Ein Volk, ein Fuhrer, ein Ya). Hitler mengajarkan bahwa bangsa Jerman adalah sebagai bangsa yang unggul di segala bidang (Deutsche uber alles). Sebagai bangsa yang besar dan terbaik, semua bangsa di dunia ini harus merelakan negaranya untuk bangsa Jerman. Bangsa Jerman dianggap sebagai bangsa keturunan bangsa Aria atau bangsa Indo Jerman. Bangsa Jerman merasa sebagai bangsa tuan (Herren Volk) ciri-ciri postur tubuh bangsa Jerman adalah tinggi, tegap, bermata biru, hidung mancung, dan rambut pirang. Kemurnian darah Aria harus dijaga, tidak boleh dikotori oleh bangsa lain, lebih-lebih darah bangsa Yahudi. Supaya tidak mengotori bangsa Jerman, bangsa Yahudi harus dilenyapkan. Selama Perang Dunia II lebih kurang 56 juta Yahudi mati dibunuh.
Bangsa Jerman sebagai bangsa keturunan ras Aria menganggap dirinya sebagai bangsa besar maka harus hidup di dalam ruang (negara) yang besar. Tanpa negara yang besar, bangsa Jerman tidak akan dapat maju dan berkembang. Hal tersebut mendorong bangsa Jerman melakukan ekspansi ke negara lain. Pada tahun 1938 Jerman berhasil menduduki Austria dan tahun 1939 menguasai Cekoslowakia. Ketika Jerman akan menguasai Danzig di Polandia tahun 1939, Eropa marah sehingga meletuslah Perang Dunia II.
Hak individu di Jerman tidak dihormati. Rakyat Jerman harus rela mengorbankan segala-galanya demi kebebasan dan kebesaran bangsa dan tanah airnya. Setiap individu dapat diperlakukan sewenang-wenang dengan alasan demi bangsa dan tanah air. Itulah yang disebut negara Jerman sebagai negara totaliter. Nazi hanya mementingkan negara dan bangsanya sehingga mengakibatkan tumbuh semangat nasionalisme yang berlebihan yang disebut chauvinisme. Semua yang berbau internasional dianggap menghambat kemajuan. Itulah sebabnya Nazi memusuhi komunisme dan agama.
Hitler tidak mau mengakui Perjanjian Versailles yang dinilai terlalu memberatkan Jerman. Akibatnya, Jerman mendapat protes dari negara lain. Untuk itu, Jerman keluar dari LBB. Dalam pemerintahannya. Hitler dibantu oleh Josef Gobble sebagai Menteri Propaganda. Herman Goring sebagai panglima angkatan udara dan Henrich Himler sebagai pemimpin pasukan Schutz Staffel. Pasukan itu sangat berkuasa. Mereka berseragam cokelat, mengenakan atribut kepangkatan militer yang mencolok dan mempunyai lambang swastika dan salam Heil Hitler (Hidup Hitler).
Hilter juga menghimpun para pemuda dalam beberapa organisasi, seperti Hitler Jugend untuk pemuda berumur 14-18 tahun, Jung Volk untuk anak-anak pria berumur 10-14 tahun dan Bund Deutscher Madel untuk para pemudi berumur antara 15-21 tahun. Mereka dijadikan kader Nazi yang sangat fanatik.
Nazi berusaha mengurangi pengangguran dibawah pimpinan Dr. Hjalmar Schacht dan berhasil dengan baik. Hal tersebut merupakan pelaksanaan Rencana Pembangunan empat Tahun Tahap I, 1933-1937. Dalam Pelaksanaan Pembangunan empat Tahun Tahap ll, 1937-1941, ditargetkan dapat mencukupi kebutuhan sendiri agar tidak bergantung pada bangsa lain. Dari usaha itu, Jerman dapat menghasilkan bensin sintesis dan karet sintesis. Hal itu mengakibatkan ekonomi Jerman menjadi ekonomi perang.
Di bidang ekonomi Jerman berusaha menyiapkan kegiatan politik. Jerman mengadakan persekutuan dengan Italia, yang dikenal dengan Poros Roma-Berlin. Akhirnya, Jepang bergabung sehingga terjadi Poros Roma-Berlin-Tokyo. Agar tidak semata-mata mereka membentuk sebuah front pada tahun 1934 Italia bekerja sama dengan Prancis dan pada tahun 1938 Italia bekerja sama dengan Inggris. Jerman dengan Rusia pada tahun 1940 mengadakan perjanjian tidak saling menyerang agar Jerman dapat memusatkan perhatiannya ke Barat. Jepang mengadakan kerja sama dengan Rusia pada tahun 1941. Akan tetapi, Jerman, Italia, dan Jepang melakukan pelanggaran yang mengganggu perdamaian karena ketiganya ternyata sebagai agresor. Bahkan, ketiganya juga keluar dari keanggotaan LBB. Mereka mulai menghimpun kekuatan untuk menghadapi Negara Demokrasi. Dengan demikian, Perang Dunia ll tidak dapat dihindari lagi.
b. FasismeKelahiran fasisme tidak dapat lepas dari akibat Perang Dunia I. Setelah Perang Dunia l selesai, Italia belum puas dengan pembagian daerah, yaitu Tirol Selatan dn Istria saja. Italia menginginkan lebih banyak lagi dalam rangka mewujudkan Italia Irredenta.
Ketika berkuasa di Italia, Raja Victor Emmanuel lll kurang tegas dan sangat lemah sehingga rakyat tidak puas. Mereka menginginkan figure pemimpin yang tegas. Keadaan tersebut memberi angin baik kepada Mussolini untuk tampil dengan fasisnya.

Fasis berasal dari kata fascio artinya ikatan panah dan kapak. Ikatan kapak dan panah merupakan lambang kekuasan Kerajaan Romawi kuno. Lambang tersebut dimunculkan kembali dengan harapan Italia yang baru saja menderita kekalahan dalam Perang Dunia l dapat kembali jaya seperti pada zaman Romawi kuno.
Fasisme adalah paham yang mengutamakan Negara diatas segala-galanya. Dalam fasisme tidak ada hak milik individu. Siapapun tidak boleh menentang Negara. Semua yang dilakukan individu ditunjukan untuk Negara. Negara adalah muthlak, saat fasis berkuasa Negara Italia merupakan totaliter. Dalam fasisme pemerintah harus dipegang oleh satu orang pemimpin yang disebut ll Duce. Ia harus berasal dari Partai Fasis. ll Duce adalah seorang diktator. Siapa yang menentang dibunuh.
Dalam bidang ekonomi fasis menghendaki ekonomi dipegang oleh Negara. Organisasi buruh dapat didirikan agar pemerintahan dapat berjalan dengan lancar. Apabila terjadi perbedaan pendapat antara majikan dan buruh, harus diselesaikan dengan pengawasan Negara. Orang-orang yang sama pekerjaan dan kedudukannya mengadakan gabungan (korporasi). Korporasi hakikatnya alat pemerintah untuk mempengaruhi rakyat, bukan wakil rakyat. Semua tindakan Mussolini tersebut tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Hasil yang dicapai oleh fasis adalah sebagai berikut:
- Italia dapat menyelesaikan masalah dengan Paus melalui Perjanjian Lateran 1929, antara Mussolini dengan Paus. Intinya Paus mengakui kedaulatan Italia. Begitu pula Italia memberikan kedaulatan penuh atas Negara Vatikan kepada Paus.
- Italia berhasil menduduki Etiopia. Raja Etiopia Haile Selasei protes ke LBB. Italia mendapat sanksi LBB, yaitu dikeluarkan dari LBB.
- Italia berhasil menguasai Laut Tengah bagian timur melalui Libia, jajahan Italia.
- Italia bersahabat dengan Jerman (Poros Roma-Berlin) 1937. Keduanya bersatu karena memiliki kesamaan asas dan kesamaan musuh, yaitu Negara demokrasi Barat.
c. Fasisme JepangSetelah Perang Dunia l selesai, kaum Industriawan Jepang (zaibatsu) dan kaum militer yang tergabung dalam Departemen Pertahanan Jepang (Gunbatsu) sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik. Tidak pelak lagi hal itu akan mendorong Jepang melaksanakan politik imperialismenya. Untuk merebut pasaran di Asia Pasifik, Jepang melaksanakan politik dumping (menjual barang-brang impor di bawah harga di dalam negeri). Politik dumping dapat berjalan karena barang produksi secara besar-besaran sehingga ongkosnya menjadi lebih murah. Disamping itu, Jepang juga melaksanakan politik proteksi yang ketat untuk melindungi barang hasil dalam negeri. Barang Jepang dijual dengan harga tinggi di dalam negeri. Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk menutup kerugian penjualan di luar negeri.
Penduduk Jepang sangat padat dan kebutuhan akan bahan mentah untuk industrinya semakin mendesak maka kerja sama zaibatsu dengan gunbatsu perlu ditingkatkan. Hal tersebut mendorong Jepang menjalankan imperialisme militer. Zaibatsu memberikan senjata dan biaya kepada Gunbatsu untuk menyerbu daerah penghasil bahan mentah untuk industrinya (zaibatsu). Daerah baru tersebut sekaligus dapat dijadikan pasar industri Jepang.
Untuk menyembunyikan nafsu imperialismenya, Jepang berdalih Hakko-ichi-u (keluarga besar yang anggotanya terdiri atas Negara-negara di dunia ini, dengan Jepang sebagai pimpinannya). Menurut Shiotisme, Jepang berhak mengatur dunia di bawah pimpinannya. Falsafah Hakko-ichi-u tersebut mendapat dukungan Perdana Menteri Tanaka. Ia mengajukan usul kepada kaisar untuk membentuk Negara persemakmuran Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang (1927-1929). Oleh Tanaka rencana itu harus dilaksanakan dengan kekerasan (durc blut und eisen = dengan darah dan besi, menurut Otto von Bismarck dari Jerman). Pasukan jepang (pasukan Kate) memiliki semangat busido yang tinggi dengan senjata yang modern sehingga menjadikan mereka semakin kejam dan nekad. Dalam waktu relatif singkat Jepang berhasil menduduki Manchuria dan Mongolia. Dua daerah tersebut dijadikan modal untuk menaklukan Cina.
Pada tanggal 7 Desember 1941 Jepang secara mendadak menyerbu Pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour, di Pulau Hawaii. Peristiwa tersebut merupakan awal Perang Dunia II di Asia Pasifik.
Jepang semakin bersemangat ingin menguasai Asia Pasifik dengan propaganda yang menarik. Mereka mengaku sebagai saudara tua yang akan membebaskan bangsa Asia dari belenggu penjajahan bangsa Barat. Bangsa Asia yang sudah muak akan penderitaan sebagai akibat penjajahan semakin merindukan kebebasan dan menyambut baik kedatangan Jepang. Akibatnya, dalam waktu amat singkat, Vietnam, Singapura, Malaya, Birma, Filipina, dan Indonesia jatuh ke dalam cengkraman Jepang.
Dalam usaha membentuk Negara persemakmuran, Jepang harus berhadapan dengan Negara Amerika Serikat. Dalam menghadapi bahaya kuning (Jepang), Amerika Serikat membentuk front pertahanan ABCD (America/Amerika Serikat, British/Inggris, China/Cina, dan Ducth/Belanda).
Ketiga negara yang menganut paham totaliter, yaitu nazisme, fasisme, dan militerisme adalah Negara yang melakukan tindakan tidak terpuji sehingga membawa bencana bagi Jerman, Itali, dan Jepang sendiri. Bahkan, ketiga Negara tersebut mengalami kehancuran. Di samping itu, mereka banyak merugikan bangsa lain di dunia.